Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit   Leave a comment

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit

Sesudah Singasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290 Singasari menjadi kerajaan paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara penguasa kerajaan Singasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajah dan memotong telinganya. Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293. Ketika itu Jayakatwang adipati Kediri sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya menantu Kertanegara yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit nama tersebut diambil dari buah maja yang rasanya “pahit” dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongolia tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongolia untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongol sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukan secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Tanggal yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja yaitu tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa termasuk Ranggalawe Sora dan Nambi memberontak melawan meskipun pemberontakan tersebut tak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang terpercaya raja agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti) Halayudha ditangkap dan dipenjara lalu dihukum mati. Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

Anak dan penerus Wijaya Jayanegara adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet yg berarti “penjahat lemah”. Pada tahun 1328 Jayanegara dibunuh oleh tabib Tanca. Ibu tiri yaitu Gayatri Rajapatni seharus menggantikan akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuan Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibu pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putra Hayam Wuruk.

 

  1. B.  Kejayaan Kerajaan Majapahit

Hayam Wuruk juga disebut Rajasanagara memerintah Majapahit tahun 1350-1389. Majapahit mencapai puncak kejayaan dengan bantuan mahapatih Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364) Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Pada tahun 1377 beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang menyebabkan runtuh sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Jenderal terkenal Majapahit lain adalah Adityawarman yang terkenal karena penaklukan di Minangkabau.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampak tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan dan Vietnam bahkan mengirim duta-duta ke Tiongkok.

 

  1. 1.    Wilayah Kekuasaan dan Sistem Pemerintahan Majapahit (Bidang Politik)

Di bawah pimpinan Hayam Wuruk serta didampingi Gajah Mada, Majapahit berusaha melebarkan sayap, melakukan ekspansi ke luar Jawa. Sedikit demi sedikit, Majapahit mengusai seluruh wilayah nusantara. Seperti dipaparkan dalam kitab Negarakertagama, daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian. Bahkan beberapa daerah di Asia Tenggara, seperti Semenanjung Melayu dan Filipina bagian Selatan.

Sebagai kerajaan yang besar, Majapahit memiliki sistem ketatanegaraan yang teratur. Raja Majapahit dan keraton dianggap sebagai pusat dunia yang memiliki kekuasaan tertinggi. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:

v  Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja

v  Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan

v  Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan

v  Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan

 

Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.

Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu Daha, Jagaraga, Kabalan, Kahuripan, Keling, Kelinggapura, Kembang Jenar, Matahun, Pajang, Singhapura, Tanjungpura, Tumapel, Wengker dan Wirabumi.

 

  1. 2.    Kehidupan Sosial Masyarakat Majapahit

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu Jawa, tata masyarakatnya berdasarkan Hinduisme, ciri khusus penatapan konsep Hinduisme ialah adanya pembagian anggota masyarakat ke dalam empat golongan yang disebut warna (kasta Bali), yaitu brahmana, ksatriya, waisya dan sudra. Pola kehidupan masyarakat Majapahit ini disebutkan dalam Negarakretagama (sumber sejarah Majapahit yang sahih) pupuh LXXXI yang petikannya adalah sebagai berikut: “Itulah sebabnya sang caturdwija memperhatikan laku utama, (caturdwija adalah empat golongan pendeta). Para pendeta dari empat aliran agama mengindahkan tutur. Para anggota caturasrama, terutama caturbasma, melakukan tapa dan mematuhi tata-tertib, taat menjalankan upacara. Semua anggota empat teguh memenuhi kewajibannya masing-masing. Para menteri dan para arya menjalankan tugas pemerintahan dengan baik; golongan ksatriya, baik pria maupun wanita, semuanya berhati teguh,bertindak sopan. Golongan waisya dan sudra melakukan kewajibannya masing-masing. Demikian pula tiga golongan yang terbawah yakni Candala, Mleccha dan Tuccha.”

Konsep tata-masyarakat di atas sesuai dengan ajaran kitab undang-undangnya (Kutaramanawa) yang berbunyi “Demi kebaikan dunia, Brahman melahirkan golongan brahmana dari mulutnya, golongan ksatriya dari lengannya, golongan waisya dari pahanya dan golongan sudra dari kakinya”. Untuk melindungi dunia ini Brahman yang cemerlang menetapkan bidang-bidang kerja mereka itu masing-masing. Segenap bangsa di dunia ini, yang tidak termasuk golongan brahmana, ksatriya, waisya dan sudra disebut Dasyu, tidak pandang bahasa yang mereka ucapkan, apakah bahasa golongan mleccha ataukah golongan arya.

Para pembesar agama pada jaman Majapahit disebut dengan Dharmadhyaksa yang bergelar Dang Acarya, dalam hal ini ada dua pembesar agama, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (pembesar agama Hindu-Siwa) serta Dharmadhyaksa Kasogatan (pembesar agama Budha). Mereka masing-masing dibantu oleh para pembantunya yang disebut Uppapati dengan gelar yang sama yaitu Dang Acarya.

Selanjutnya Negarakretagama pada pupuh ke LXXXI menguraikan bahwa Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara  berusaha keras untuk menyatukan dan mewawuhkan tiga aliran agama di wilayah Majapahit yang disebut dengan Tripaksa (tiga sayap) yaitu agama Siwa, Budha dan Brahma, pupuh ini juga menyebutkan bahwa para pendetanya yang disebut caturdwija tunduk rungkup kepada ajaran tutur.

Istilah dwija dalam Hinduisme berarti lahir dua kali, kelahiran yang pertama ialah kelahiran sebagai manusia, kelahiran yang kedua berupa upacara pengalungan benang suci sebagai tanda bahwa seseorang telah diterima sebagai anggota masyarakat Arya. Upacara inisiasi ini dilakukan bagi golongan brahmana pada usia delapan tahun, bagi golongan ksatriya pada usia sebelas tahun dan bagi golongan waisya pada usia dua belas tahun. Hanya ketiga golongan inilah yang dikatakan lahir dua kali. Golongan sudra hanya lahir satu kali.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, pembawa agama Islam ke Majapahit adalah Raden Rahmat alias Sunan Ngampel, pendatang dari Campa pada pertengahan abad empat belas untuk mengunjungi bibinya puteri Campa yang kawin dengan raja Brawijaya (Bhre Kertabhumi). Tarikh mangkat puteri Campa yang tercatat pada batu nisannya di Trawulan ialah 1370 Saka (1448 M), demikianlah kedatangan Islam di Majapahit bertarikh pertengahan abad empat belas.

 

  1. 3.    Kehidupan Ekonomi Masyarakat Majapahit

 

Majapahit merupakan negara agraris dan juga sebagai negara maritim. Kedudukan sebagai negara agraris tampak dari letaknya di pedalaman dan dekat aliran sungai. Kedudukan sebagai negara maritim tampak dari kesanggupan angkatan laut kerajaan itu untuk menanamkan pengaruh Majapahit di seluruh nusantara. Dengan demikian, kehidupan ekonomi Kerajaan Majapahit menitikberatkan pada bidang pertanian dan pelayaran perdagangan.

Udara di Jawa panas sepanjang tahun. Panen padi terjadi dua kali dalam setahun, butir berasnya amat halus. Terdapat pula wijen putih, kacang hijau, rempah-rempah dan lain-lain, kecualai gandum. Buah-buahan banyak jenisnya, antara lain pisang, kelapa, delima, pepaya, durian, manggis, langsat dan semangka. Sayur mayur berlimpah macamnya. Jenis binatang juga banyak, antara lain burung beo, ayam mutiara (kalkun), burung nilam, merak, pipit, kelelawar dan hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, babi, ayam dan bebek, serta hewan langka monyet putih dan rusa putih.

Untuk membantu pengairan pertanian yang teratur, pemerintah Majapahit membangun dua buah bendungan, yaitu Bendungan Jiwu untuk persawahan daerah Kalamasa dan Bendungan Trailokyapuri untuk mengairi daerah hilir.

Majapahit memiliki mata uang tersendiri yang bernama gobog, uang logam yang terbuat dari campuran perak, timah hitam, timah putih, dan tembaga. Bentuknya koin dengan lubang di tengahnya. Dalam transaksi perdagangan, selain menggunakan mata uang gobog, penduduk Majapahit juga menggunakan uang kepeng dari berbagai dinasti. Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Ukuran timbangan disebut sekati, sama dengan 20 tahil; setahil sama dengan 16 qian; 1 qian sama dengan 4 kubana.

Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang pernah mengunjungi Jawa, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

 

  1. 4.    Kehidupan Beragama Masyarakat Majapahit

Masyarakat Majapahit pada umumnya menganut agama Hindu dan Budha. Dalam agama Hindu yang dianut oleh masyarakat Majapahit, masih terdapat aliran-aliran kepercayaan, seperti aliran Siwa.

Untuk melakukan upacara keagamaan, dibangunlah bangunan-bangunan suci. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (pertirthan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan survei ini kebanyakan bersifat agama siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha, antara lain Candi Jago, Bhayalangu, Sanggrahan dan Jabung.

Disamping perbedaan latar belakang keagamaan, terdapat pula perbedaan status dan fungsi bangunan suci. Berdasarkan statusnya, bangunan-bangunan suci tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bangunan yang dikelola oleh pemerintah pusat dan yang berada di luar kekuasaan pemerintah pusat.

Bangunan suci yang dikelola pemerintah pusat ada dua macam, yaitu:

1)        Dharma-Dalm disebut pula Dharma-Haji yaitu bangunan suci yang diperuntukkan bagi raja beserta keluarganya. Jumlah Dharma-Haji ada 27 buah, diantaranya Kegenengan, Kidal, Jajaghu, Pikatan, Waleri, Sukalila, dan Kumitir.

2)        Dharma-Lpas adalah bangunan suci yang dibangun di atas tanah wakaf (bhudana) pemberian raja untuk para rsi-saiwa-sogata, untuk memuja dewa-dewa dan untuk mata pencaharian mereka.

Sedangkan bangunan suci yang berada di luar pengelolaan pemerintah pusat kebanyakan adalah milik prasasti rsi, antara lain mandala, katyagan, janggan. Secara umum disebut patapan atau wanasrama karena letaknya terpencil. Mandala yang dikenal sebagai kadewaguruan adalah tempat pendidikan agama yang dipimpin oleh seorang siddharsi yang disebut pula dewaguru.

Berdasarkan fungsinya, candi-candi masa Majapahit dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu:

  • Candi-candi yang mempunyai 2 fungsi, yaitu sebagai pendharmaan raja dan keluarganya, juga sebagai kuil pemujaan dewa dengan ciri adanya tubuh candi dan ruang utama (garbhagrha) untuk menempatkan sebuah arca pendharmaan (dewawimbha), misalnya candi Jago, Pari, Rimbi, Simping (sumberjati).
  • Candi-candi yang hanya berfungsi sebagai kuil pemujaan, dengan ciri tidak mempunyai garbhagrha dan arca pendharmaan/perwujudan, tubuh candi diganti dengan altar atau miniatur candi. Candi-candi kuil ini kebanyakan dipakai oleh para rsi dan terletak dilereng-lereng gunung, misalnya di lereng gunung Penanggungan, Lawu, Wilis, dsb.

Berdasarkan sumber tertulis, raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dari aliran Siwasiddhanta kecuali Tribuwanattungadewi (ibunda Hayam Wuruk) yang beragama Buddha Mahayana. Walaupun begitu agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama resmi kerajaan hingga akhir tahun 1447. Pejabat resmi keagamaan pada masa pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa) ada 2 pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan, kemudian 5 pejabat Siwa dibawahnya yang disebut Dharmapapati atau Dharmadihikarana.

Selain itu terdapat pula para agamawan yang mempunyai peranan penting dilingkungan istana yang disebut tripaksa yaitu rsi-saiwa-sagata (berkelompok 3); dan berkelompok 4 disebut catur dwija yaitu mahabrahmana (wipra)-saiwa-sogata-rsi.

Pembaharuan/pertemuan agama Siwa dan agama Buddha pertama kali terjadi pada masa pemerintahan raja Krtanagara, raja Singasari terakhir. Apa maksudnya belum jelas, mungkin disamping sifat toleransinya yang sangat besar, juga terdapat alasan lain yang lebih bersifat politik, yaitu untuk memperkuat diri dalam menghadapi musuh dari Cina, Kubilai Khan. Untuk mempertemukan kedua agama itu, Krtanagara membuat candi Siwa-Buddha yaitu Candi Jawi di Prigen dan Candi Singasari di dekat kota Malang.

Pembaruan agama Siwa-Buddha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada raja pertama Majapahit, yaitu Kertarajasa yang didharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud siwa (Siwawimbha) dan di Antahpura sebagai Buddha; atau raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanegara yang didharmakan di Shila Ptak sebagai Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan dimana ‘Kenyataan Tertinggi’ dalam agama Siwa maupun Buddha tidak berbeda.

Agama Siwa yang berkembang dan dipeluk oleh raja-raja Majapahit adalah Siwasiddhanta (Siddantatapaksa) yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa Raja Sindok (abad X). Sumber ajarannya adalah Kitab Tutur (Smrti), dan yang tertua adalah Tutur Bhwanakosa yang disusun pada jaman Mpu Sindok, sedang yang termuda dan terpanjang adalah Tutur Jnanasiddhanta yang disusun pada jaman Majapahit. Ajaran agama ini sangat dipegaruhi oleh Saiwa Upanisad, Vedanta dan Samkhya. ‘Kenyataan Tertinggi’ agama ini disebut Paramasiwa yang disamakan dengan suku Kata suci OM. Sebagai dewa tertinggi Siwa mempunyai 3 hakekat (tattwa) yaitu:

v  Paramasiwa-tattwa yang bersifat tak terwujud (niskala)

v  Sadasiwa-taattwa yang bersifat berwujud-tak berwujud (sanakala-niskala)

v  Siwa-tattwa bersifat berwujud (sakala)

Selain agama Siwasiddhanta dikenal pula aliran Siwa Bhairawa yang muncul sejak pemerintahan Raja Jayabhaya dari Kediri. Beberapa pejabat pemerintahan Majapahit memeluk agama ini. Agama ini adalah aliran yang memuja Siwa sebagai Bhairawa. Di India Selatan mungkin dikenal sebagai aliran Kapalika. Pemujanya melakukan tapa yang sangat keras, seperti tinggal di kuburan dan memakan daging dan darah manusia (mahavrata). Disamping agama Siwa, terdapat pula agama Waisnawa yang memuja dewa Wisnu, yang dalam agama Siwa, Wisnu hanya dipuja sebagai dewa pelindung (istadewata).

Selain agama Hindu dan Budha, menurut catatan yang ditulis oleh Ma Huan dari Cina, juga terdapat masyarakat yang menganut agama Islam, utamanya para pedagang di pelabuhan. Hal ini menunjukkan kompleksnya penduduk Majapahit pada masa itu.

Walaupun terdapat banyak aliran kepercayaan dalam masyarakat Majapahit, nyatanya hal tersebut tidak menimbulkan perselisihan di antara mereka. Bahkan Hayam Wuruk yang beragama Hindu dan Gajah Mada yang beragama Budha mampu membangun Majapahit yang besar dan kuat.

 

  1. 5.    Kebudayaan Majapahit

Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha Siwa dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha Siwa maupun Wisnu.

Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelum arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan Mojokerto.

 

  1. C.  Keruntuhan Majapahit

Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta. Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang.

Pada kurun pemerintahan Wikramawardhana, serangkaian ekspedisi laut Dinasti Ming yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim China, tiba di Jawa beberapa kali antara kurun waktu 1405 sampai 1433. Sejak tahun 1430 ekspedisi Cheng Ho ini telah menciptakan komunitas muslim China dan Arab di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, seperti di Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel; maka Islam pun mulai memiliki pijakan di pantai utara Jawa.

Wikramawardhana memerintah hingga tahun 1426, dan diteruskan oleh putrinya, Ratu Suhita, yang memerintah pada tahun 1426 sampai 1447. Ia adalah putri kedua Wikramawardhana dari seorang selir yang juga putri kedua Wirabhumi. Pada 1447, Suhita mangkat dan pemerintahan dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik laki-lakinya. Ia memerintah hingga tahun 1451. Setelah Kertawijaya wafat, Bhre Pamotan menjadi raja dengan gelar Rajasawardhana dan memerintah di Kahuripan. Ia wafat pada tahun 1453 AD. Terjadi jeda waktu tiga tahun tanpa raja akibat krisis pewarisan takhta. Girisawardhana, putra Kertawijaya, naik takhta pada 1456. Ia kemudian wafat pada 1466 dan digantikan oleh Singhawikramawardhana. Pada 1468 pangeran Kertabhumi memberontak terhadap Singhawikramawardhana dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara. Di bagian barat kemaharajaan yang mulai runtuh ini, Majapahit tak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan kekuasaannya ke Sumatera. Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan Majapahit di daerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Singhawikramawardhana memindahkan ibu kota kerajaan lebih jauh ke pedalaman di Daha (bekas ibu kota Kerajaan Kediri) dan terus memerintah disana hingga digantikan oleh putranya Ranawijaya pada tahun 1474. Pada 1478 Ranawijaya mengalahkan Kertabhumi dan mempersatukan kembali Majapahit menjadi satu kerajaan. Ranawijaya memerintah pada kurun waktu 1474 hingga 1519 dengan gelar Girindrawardhana. Meskipun demikian kekuatan Majapahit telah melemah akibat konflik dinasti ini dan mulai bangkitnya kekuatan kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa.

Waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka, berakhirnya abad dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1527.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bhre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Menurut prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya mengaku bahwa ia telah mengalahkan Kertabhumi dan memindahkan ibu kota ke Daha (Kediri). Peristiwa ini memicu perang antara Daha dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi. Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527. Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.

Dengan jatuhnya Daha yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, kekuatan kerajaan Islam pada awal abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa kerajaan Majapahit. Demak dibawah pemerintahan Raden (kemudian menjadi Sultan) Patah (Fatah), diakui sebagai penerus kerajaan Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi dan tradisi Demak, legitimasi Raden Patah karena ia adalah putra raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang putri China.

Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.

Demak memastikan posisinya sebagai kekuatan regional dan menjadi kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Saat itu setelah keruntuhan Majapahit, sisa kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa hanya tinggal kerajaan Blambangan di ujung timur, serta Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran di bagian barat. Perlahan-lahan Islam mulai menyebar seiring mundurnya masyarakat Hindu ke pegunungan dan ke Bali. Beberapa kantung masyarakat Hindu Tengger hingga kini masih bertahan di pegunungan Tengger, kawasan Bromo dan Semeru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Majapahit ini didirikan oleh Raden Wijaya. Konon ia memperoleh hadiah hutan dari Jayakatwang kemudian hutan tersebut ia beri nama Majapahit, yang diambil dari buah maja yang rasanya pahit.

Sebagai kerajaan yang besar, Majapahit memiliki sistem ketatanegaraan yang teratur. Raja Majapahit dan keraton dianggap sebagai pusat dunia yang memiliki kekuasaan tertinggi. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu Jawa, tata masyarakatnya berdasarkan Hinduisme, ciri khusus penatapan konsep Hinduisme ialah adanya pembagian anggota masyarakat ke dalam empat golongan yang disebut warna (kasta Bali), yaitu brahmana, ksatriya, waisya dan sudra. Majapahit juga merupakan negara agraris dan juga sebagai negara maritim. Kedudukan sebagai negara agraris tampak dari letaknya di pedalaman dan dekat aliran sungai. Kedudukan sebagai negara maritim tampak dari kesanggupan angkatan laut kerajaan itu untuk menanamkan pengaruh Majapahit di seluruh nusantara. Dengan demikian, kehidupan ekonomi Kerajaan Majapahit menitikberatkan pada bidang pertanian dan pelayaran, perdagangan.

Masyarakat Majapahit pada umumnya menganut agama Hindu dan Budha. Dalam agama Hindu yang dianut oleh masyarakat Majapahit, masih terdapat aliran-aliran kepercayaan, seperti aliran Siwa. Untuk melakukan upacara keagamaan, dibangunlah bangunan-bangunan suci. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (pertirthan) dan gua-gua pertapaan.

Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta. Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana.

DAFTAR PUSTAKA

 

Masmada, Renny. 2003. Gajah Mada Sang Pemersatu Bangsa. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

http://bunga911.blogspot.com/2011/06/kehidupan-masyarakat-majapahit.html. Diakses pada tanggal 16 desember 2011. 13.21 WIB

http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit. Diakses pada tanggal 16 desember 2011. 13.23 WIB

http://kampusmayaku.wordpress.com/2010/04/08/birokrasi-kerajaan-majapahit/. Diakses pada tanggal 16 desember 2011. 15.12 WIB

Posted 22 Desember 2011 by hayuntrisejarah in Tak terkategori

NASIONALISME   Leave a comment

NASIONALISME

 

  1. A.  Pengertian Nasionalisme

Nasionalisme berasal dari kata nation (Inggris) dan natie (Belanda), yang berarti bangsa. Bangsa adalah sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemampuan untuk bersatu, karena adanya persamaan nasib, cita-cita, dan tujuan.

Secara etimologi: Nasionalisme berasal dari kata “nasional” dan “isme” yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air; memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa; memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara; persatuan dan kesatuan.

Menurut Ensiklopedi Indonesia: Nasionalisme adalah sikap politik dan sosial dari sekelompok bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan dengan meletakkan kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsanya. Nasionalisme dapat juga diartikan sebagai paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa nasionalisme adalah paham yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu yang harus diberikan kepada negara dan bangsanya, dengan maksud bahwa individu sebagai warga negara memiliki suatu sikap atau perbuatan untuk mencurahkan segala tenaga dan pikirannya demi kemajuan, kehormatan dan tegaknya kedaulatan negara dan bangsa.

Nasionalisme (dalam arti modern) untuk pertama kalinya muncul di Eropa pada abad ke-18. Lahirnya paham nasionalisme ini diikuti dengan terbentuknya negara-negara nasional atau negara kebangsaan. Pada mulanya terbentuknya negara kebangsaan dilatarbelakangi oleh fakor-faktor objektif seperti: persamaan keturuan, bahasa, adat-istiadat, tradisi, dan agama. Akan tetapi kebangsaan yang dibentuk atas dasar paham nasionalisme lebih menekankan kamauan untuk hidup bersama dalam negara kebangsaan. Sejalan dengan ini maka, rakyat Amerika Serikat tidak menyatakan bahwa mereka harus seketurunan untuk membentuk suatu negara, sebab disadari bahwa penduduk Amerika Serikat terdiri atas berbagai suku bangsa, asal-usul, adat-istiadat, dan agama yang berbeda.

Ada dua macam nasionalisme, antara lain:

  1. Nasionalisme dalam arti sempit: paham kebangsaan yang berlebihan dengan memandang bangsa sendiri lebih tinggi (unggul) dari bangsa lain. Paham ini sering disebut dengan istilah “Chauvinisme”. Chauvinisme pernah dianut di Italia (masa Bennito Mussolini); Jepang (masa Tenno Haika) dan Jerman (masa Adolf Hitler).
  2. Nasionalisme dalam arti luas: paham kebangsaan yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu terhadap bangsa dan tanah airnnya dengan memandang bangsanya itu merupakan bagian dari bangsa lain di dunia. Nasionalisme arti luas mengandung prinsip-prinsip: kebersamaan; persatuan dan kesatuan; dan demokrasi (demokratis).
  1. B.  Kemunculan Nasionalisme di Indonesia

Sejak abad 19 dan abad 20 muncul benih-benih nasionalisme pada bangsa Asia Afrika khususnya Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya nasionalisme, antara lain:

  1. 1.      Faktor dari dalam (Internal)
    1. Kenangan kejayaan masa lampau

Bangsa-bangsa Asia dan Afrika sudah pernah mengalami masa kejayaan sebelum masuk dan berkembangnya imperialisme dan kolonialisme barat. Bangsa India, Indonesia, Mesir, dan Persia pernah mengalami masa kejayaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kejayaan masa lampau mendorong semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan. Bagi Indonesia kenangan kejayaan masa lampau tampak dengan adanya kenangan akan kejayaan pada masa kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Dimana pada masa Majapahit, mereka mampu menguasai daerah seluruh nusantara, sedangkan masa Sriwijaya mampu berkuasa di lautan karena maritimnya yang kuat.

  1. Perasaan senasib dan sepenanggungan akibat penderitaan dan kesengsaraan masa penjajahan

Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Asia, Afrika mengakibatkan mereka hidup miskin dan menderita sehingga mereka ingin menentang imperialisme barat.

  1. Munculnya golongan cendekiawan

Perkembangan pendidikan menyebabkan munculnya golongan cendekiawan baik hasil dari pendidikan barat maupun pendidikan Indonesia sendiri. Mereka menjadi penggerak dan pemimpin munculnya organisasi pergerakan nasional Indonesia yang selanjutnya berjuang untuk melawan penjajahan.

  1. Paham nasionalis yang berkembang dalam bidang-bidang tertentu, antara lain:
  • Dalam bidang politik, tampak dengan upaya gerakan nasionalis menyuarakan aspirasi masyarakat pribumi yang telah hidup dalam penindasan dan penyelewengan hak asasi manusia. Mereka ingin menghancurkan kekuasaan asing/kolonial dari Indonesia.
  • Dalam bidang ekonomi, tampak dengan adanya usaha penghapusan eksploitasi ekonomi asing. Tujuannya untuk membentuk masyarakat yang bebas dari kesengsaraan dan kemelaratan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.
  • Dalam bidang budaya, tampak dengan upaya untuk melindungi, memperbaiki dan mengembalikan budaya bangsa Indonesia yang hampir punah karena masuknya budaya asing di Indonesia. Para nasionalis berusaha untuk memperhatikan dan menjaga serta menumbuhkan kebudayaan asli bangsa Indonesia.
  1. 2.      Faktor dari luar (eksternal)

a)   Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)

Tahun 1904-1905 Jepang melawan Rusia dan tentara Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Hal ini dikarenakan, modernisasi yang dilakukan jepang yang telah membawa kemajuan pesat dalam berbagai bidang bahkan dalam bidang militer. Awalnya dengan kekuatan yang dimiliki tersebut Jepang mampu melawan Korea tetapi kemudian dia melanjutkan ke Manchuria dan beberapa daerah di Rusia. Keberhasilan Jepang melawan Rusia inilah yang mendorong lahirnya semangat bangsa-bangsa Asia Afrika mulai bangkit melawan bangsa asing di negerinya.

b)   Perkembangan Nasionalisme di Berbagai Negara

1)      Pergerakan Kebangsaan India

India untuk menghadapi Inggris membentuk organisasi kebangsaan dengan nama ”All India National Congres”. Tokohnya, Mahatma Gandhi, Pandit Jawaharlal Nehru, B.G. Tilak,dsb. Mahatma Gandhi memiliki dasar perjuangan :

  • Ahimsa (dilarang membunuh) yaitu gerakan anti peperangan
  • Hartal, merupakan gerakan dalam bentuk asli tanpa berbuat apapun walaupun mereka tetapi masuk kantor atau pabrik
  • Satyagraha merupakan gerakan rakyat India untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah kolonial Inggris.
  • Swadesi merupakan gerakan rakyat India untuk memakai barang-barang buatan negeri sendiri

Selain itu adanya pendidikan Santiniketan oleh Rabindranath Tagore

2)      Gerakan Kebangsaan Filipina

Digerakkan oleh Jose Rizal dengan tujuan untuk mengusir penjajah bangsa Spanyol di Wilayah Filipina. Jose ditangkap tanggal 30 September 1896 dijatuhi hukuman mati. Akhirnya dilanjutkan Emilio Aquinaldo yang berhasil memproklamasikan kemerdekaan Filipina tanggal 12 Juni 1898 tetapi Amerika Serikat berhasil menguasai Filipina dari kemerdekaan baru diberikan Amerika Serikat pada 4 Juli 1946.

3)      Gerakan Nasionalis Rakyat Cina

Gerakan ini dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, yang mengadakan pembaharuan dalam segala sektor kehidupan bangsa Cina. Dia menentang kekuasaan Dinasti Mandsyu. Dasar gerakan San Min Chu I:

  • Republik Cina adalah suatu negara nasional Cina
  • Pemerintah Cina disusun atas dasar demokrasi (kedaulatan berada di tanggan rakyat)
  • Pemerintah Cina mengutamakan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya.

Apa yang dilakukan oleh Dr. Sun Yat Sen sangat besar pengaruhnya terhadap pergerakan rakyat Indonesia. Terlebih lagi setelah terbentuknya Republik Nasionalis Cina (1911)

4)      Pergerakan Turki Muda (1908)

Dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha menuntut pembaharuan dan modernisasi di segala sektor kehidupan masyarakatnya. Ia ingin agar dapat mengembangkan negerinya menjadi negara modern. Gerakan Turki Muda ini banyak mempengaruhi munculnya pergerakan nasional di Indonesia.

5)      Pergerakan Nasionalisme Mesir

Dipimpin oleh Arabi Pasha (1881-1882) dengan tujuan menentang kekuasaan bangsa Eropa terutama Inggris atas negeri Mesir. Adanya pandangan modern dari Mesir yang dikemukakan oleh Muhammad Abduh mempengaruhi berdirinya organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia seperti Muhammaddiyah.

Intinya dengan gerakan kebangsaan dari berbagai negara tersebut mendorong negara-negara lain termasuk Indonesia untuk melakukan hal yang sama yaitu melawan penjajahan dan kolonialisme di Negaranya.

c)    Munculnya Paham-paham Baru

Munculnya paham-paham baru di luar negeri seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi dan pan islamisme juga menjadi dasar berkembangnya paham-paham yang serupa di Indonesia. Perkembangan paham-paham itu terlihat pada penggunaan ideologi-ideologi (paham) pada organisasi pergerakan nasional yang ada di Indonesia.

  1. 3.      Perkembangan Pergerakan Nasional

Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa pergerakan nasional (1908-1942), dibagi dalam tiga tahap berikut:

v Masa pembentukan (1908-1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.

v Masa radikal/nonkooperasi (1920-1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

v Masa moderat/kooperasi (1930-1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

  1. C.  Jenis-jenis Nasionalisme

Snyder membedakan empat jenis nasionalisme, yaitu:

  1. Nasionalisme revolusioner, (terjadi di Perancis pada akhir abad ke18).
    Untuk negeri yang dikatakan memiliki nasionalisme revolusioner, ketika elite politik sangat berkeinginan untuk melakukan demokratisasi, tapi lembaga perwakilan yang ada jauh dari memadai untuk mengimbanginya.
  2. Nasionalisme kontrarevolusioner, (terjadi di Jerman sebelum Perang Dunia I). Negeri yang bernasionalisme kontrarevolusioner, para elite politiknya menganggap diri selalu benar dan untuk itu lewat lembaga perwakilan yang ada, mereka menyerang pihak yang mereka anggap sebagai musuh atau melawan kepentingan mereka.
  3. Nasionalisme sipil, (merujuk pada perkembangan di wilayah Britania dan Amerika hingga sekarang). Suatu negeri dikatakan memiliki nasionalisme sipil ketika ia memiliki lembaga perwakilan yang kuat, dan juga para elite politiknya memiliki kelenturan dalam berdemokrasi.
  4. Nasionalisme SARA (diterjemahkan dari kata ethnic nationalism) (terjadi di Yugoslavia atau Rwanda).

SARA di sini merujuk pada akronim zaman Orde Baru, yakni suku, agama, ras, dan antar golongan, yang sering kali justru ditabukan untuk dibicarakan dalam negeri yang sangat plural ini. Dapat dikatakan nasionalisme SARA jika para elite politik negara tersebut tidak menganut paham demokrasi, dan mengekspresikan kepentingannya hanya untuk membela satu kelompok tertentu lewat lembaga-lembaga perwakilan yang ada. Snyder memilah empat jenis nasionalisme tersebut dan Ia membedakannya dari interseksi kuat atau lemahnya lembaga perwakilan politik, dan lentur atau tidak lenturnya kepentingan elite politik terhadap demokrasi.

  1. D.  Mengukur Tingkat Nasionalisme Masyarakat Indonesia

Dalam hal ini memang susah untuk mengukur tingkat Nasionalisme bangsa Indonesia secara matematis. Akan tetapi dari berbagai faktor yang mempengaruhinya kita dapat juga mengira-ngira bagaimana tingkat Nasionalisme yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini.

Faktor ekonomi dan budaya yang telah dibahas diatas memang sangat berperan dalam rasa Nasionalisme Bangsa Indonesai karena bagaimana akan bisa membanggakan bangsa dan Negara ini jika kemiskinan masih banyak, pengangguran masih numpuk, tingkat kriminalitas makin tinggi. Orang pun akan memikirkan dua kali jika mugkin ditanyakan apakah anda cinta dengan bangsa dan Negara ini?. Tapi tentunya pendapat orang berbeda tergantung dari pemikiran mereka, akan tetapi sebagain masyarakat indonesiakan masih berada di garis kemiskinan. Dengan kata lain pemikiran itu  mungkin saja bisa dibenarkan.

Contoh lainnya yang bisa dibilang mengurangi dan mengotori rasa nasionalisme adalah dimana banyaknya kasus korupsi bahkan kolusi dan nepotisme yang jelas sekali membuat negara ini tetap dalam keadaan terpuruk. Bagaimana mungkin orang yang benar mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi dapat menguras harta yang bukan haknya. Harta yang seharusnya untuk kemakmuran masyarakat. Apalagi kasus-kasus yang menyangkut para elit politik dan orang nomor sekian di Indonesia. Itu sudah menodai nasionalisme.

Ditambah lagi perbedaan sedikit saja di negeri ini bisa jadi masalah besar. Contohnya dalam masalah supporter sepak bola yang sering terjadi kerusuhan, pengrusakan dan tawuran antar supporter, rasisnya para suporter. Kapan bangsa Indonesia ini akan dewasa dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi jika adanya perbedaan sedikit saja bisa jadi masalah besar?

Kapan Indonesia akan seperti negara Jepang yang bisa dibilang jiwa patriotisme dan nasionalisme sangat tinggi sekali. Jika kita tanya saja pada masyarak mungkin saja masih banyak yang tidak tahu Pancasila, padahal pancasila bisa dibilang wadah tempat menyatukan berbagai penghalang yang menghantui bangsa Indonesia ini.

Tapi rasa optimis ini akan terus ada karena dari gejala situasi saat ini. Sebagai contoh pengakuan budaya batik oleh negara tetangga menimbulkan rasa persatuan dan nasionalisme sebab kita pun tidak mau budaya bangsa yang asli kita miliki menjadi hilang begitu saja menjadi milik orang. Rasa tersebut timbul dari rasa senasib untuk memiliki bangsa Indonesia ini. Akan tetapi jika rasa itu tidak di imbangi dengan rasa penghormatan terhadap bangsa dan negara lain maka akan menimbulkan sikap chauvinisme.

Chauvinisme yang merupakan sikap mengagungkan bangsa dan negara sendiri tanpa menghormati bangsa dan negara lainnya. Rasa optimis itu tentu saja harus diimbangi dengan pembenahan diberbagai aspek kehidupan seperti pembenahan sistem perekonomian dan perpolotikan serta sistem hukum yang bagus. Karena sekali lagi jika faktor yang mempengaruhinya kurang baik maka Indonesia akan tetap tertinggal dan rasa nasionalisme itu mungkin saja akan menghilang dan rasa percaya terhadap para pemimpin akan habis. Dan tentu mungkin apa yang akan diprediksikan setelah itu adalah mungkin saja kita akan mengalami evolusi seperti tahun 1998? Tapi penulis harapkan tidak demikian karena kita yakin masih punya semangat untuk menjadi yang lebih baik lagi.

  1. E.     Nasionalisme di Tengah Globalisasi

Nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan ruh semangat pergerakan untuk bergerak melawan segala bentuk penindasan baik pada sektor ekonomi, politik, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan. Melalui nasionalisme inilah muncul sebuah embrio tekat untuk  berbangsa, berbahasa, bertumpah darah satu yakni Indonesia seperti  yang sudah tertorehkan dalam sumpah pemuda 1928. Dengan semangat satu bangsa, bahasa dan tumpah darah yang terinternalisasi dalam diri seorang pemuda pada saat itu hingga mencapai titik klimak terwujudnya jembatan emas pada proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Semangat proklamasi sebagai sandaran bagi nasionalisme bangsa indonesia ini mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mendorong  dalam kemajuan bangsa ini.

Nasionalisme kita yang dulunya sangat dalam hingga terinternalisasi  pada diri seseorang dengan proses berjalanya waktu serta faktor-faktor lingkungan kini telah menjadi nasionalisme yang dangkal. Kita membela sang merah putih hanya dalam ha-hal yang sifatnya simbolik, namun kita diam saja saat melihat kekayaan alam kita di kuras dan dijajah oleh koorporasi asing, ketika sektor-sektor vital ekonomi seperti perbankan dan industri asing, bahkan saat kekuatan asing sudah masuk mempengarui kebijakan sosial, ekonomi, dan politik kita diam tak mampu bekata apa-apa, seakan-akan kita kita sudah kehilangan harga dan martabat bangsa.

Hancurnya  kedaulatan dan kemandirian bangsa serta terpuruknya nasib rakyat indonesia bukanlah suatu fenomena yang datang dengan sendirinya. Kehancuran bangsa ini tak lepas dari fenomena global yang berkembang pesat, dalam dan luas yaitu ketidaksiapan dan kemampuan baik secara mental, sosial-budaya, ekonomi serta politik dalam menghadapi ancaman globalisme-kapitalistik. Dalam pandangan ekonomi dan politik kepentinggan globalisasi adalah sebuah proses  sistematis untuk merombak struktur  perekonomian negara-negara miskin, terutama berupa pengkerdilan peran negara dan peningkatan peran pasar, sehingga memudahkan dalam pengintegrasian perekonomian negara-negara miskin kedalam genggaman para pemodal negara-negara kaya. Secara ringkas globalisasi telah merong-rong kedaulatan bangsa (ekonomi, politik, budaya, pertahanan dan keamanan) memperlemah kapasitas negara untuk malayani dan melindungi rakyat dan kepentingan strategis nasional. Sehingga  bangsa ini akan tergantung dan menggantungkan diri pada negara lain.

Impian gobalisasi yang sangat bagus tadi ternyata sulit direalisasikan dan bahkan membawa buah simalakama bagi negara negara berkembang seperti indonesia, kemiskinan makin bertambah, banyak kejahatan-kejahatan korporasi yang melanggar HAM yang merusak lingkungan dan menguras kekayaan alam.

Disamping globalisasi yang sifatnya ekonomi tadi indonesia harus besiap-siap menghadapi globalisasi budaya, dimana budaya-budaya lokal akan semakin terkikis oleh budaya-budaya luar. Disini sudah mulai tampak banyak generasi muda yang mereka tak mau melestarikan budaya budaya mereka, mereka lebih mencintai kebudayaan asing, sehingga pada akhir akhir ini banyak kita jumpai kasus-kasus pengklaem kebudayaan. Semangat nasionalisme ini juga semakin terlihat seberapa dalam mereka mencintai dan mempertahankan kebudaaan yang mereka miliki, serta melestarikanya. Jangan sampai kebudayan yang kita punyai ikut tergadaikan akibat arus globalisasi. Disini sebenarnya indonesia mempunyai banyak kelebihan bila dibandingkan dengan negara lain sebab indonesia mempunyai banyak wilayah, dengan peninggalan budaya yang besar dan penduduk sehingga mempunyai banyak kebudayaan dan punya banyak tenaga untuk mempertahankan kebudayaan lokal maupun nasional. Di samping itu negara indonesia mempunyai banyak keagamaan yang mana setiap agama mempunyai kebudayan dan adat istiadat untuk merayakan ibadah ke agamanya tersebut. Dengan kelebihan ini semua indonesia  di harapkan menjadi lebih baik dalam bidang kebudayaan.

 

BAB III

KESIMPULAN

Nasionalisme adalah paham yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu yang harus diberikan kepada negara dan bangsanya, dengan maksud bahwa individu sebagai warga negara memiliki suatu sikap atau perbuatan untuk mencurahkan segala tenaga dan pikirannya demi kemajuan, kehormatan dan tegaknya kedaulatan negara dan bangsa.

Sejak abad 19 dan abad 20 muncul benih-benih nasionalisme pada bangsa Asia Afrika khususnya Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya nasionalisme, antara lain: faktor dari dalam (kenangan kejayaan masa lampau, perasaan senasib dan sepenanggungan akibat penderitaan dan kesengsaraan masa penjajahan, munculnya golongan cendekiawan, paham nasionalis yang berkembang). Sedangkan faktor dari luar antara lain kemenangan Jepang atas Rusia, perkembangan nasionalisme di berbagai negara, munculnya paham-paham baru. Selain faktor intern dan ektern pergerakan nasional juga ikut mempunyai andil munculnya benih-benih nasionalisme.

Nasionalisme di indonesia memang sering mengalami pasang surut. Dapat kita ketahui bahwa adanya sedikit perbedaan saja bisa menimbulkan masalah yang besar. Tetapi bangsa Indonesia juga memiliki rasa nasionalisme yang menggebu-gebu disaat negara kita sedang mengalami bahaya. Misalnya saja pada saat batik mau diakui oleh negara tetangga. Disana dapat kita lihat betapa besarnya persatuan dan nasionalisme yang dimiliki rakyat Indonesia untuk menjaga budaya aslinya.

Perkembangan nasionalisme Indonesia di era globalisasi ini justru mengalami kemiskinan yang amat mendalam. Globalisasi telah merong-rong kedaulatan bangsa (ekonomi, politik, budaya, pertahanan dan keamanan) memperlemah kapasitas negara untuk malayani dan melindungi rakyat dan kepentingan strategis nasional. Sehingga  bangsa ini akan tergantung dan menggantungkan diri pada negara lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 2001. Nasionalisme dan sejarah. Bandung: CV. Satya Historika

Agung S., Leo. 2002. Sejarah Intelektual. Salatiga: Widya Sari Press

http://vhe210.wordpress.com/2009/10/14/proses-kelahiran-dan-perkembangan-nasionalisme-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 25 November 2011. 20.13 WIB

http://exact2sman3.blogspot.com/2010/12/proses-kelahiran-dan-perkembangan.html. Diakses pada tanggal 25 November 2011. 10.57 WIB

http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=6891&coid=4&caid=33&gid=4. oleh Tjahjono Widarmanto. Diakses pada tanggal 25 November 2011. 15.12 WIB

Posted 22 Desember 2011 by hayuntrisejarah in Tak terkategori

Halo dunia!   1 comment

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Posted 22 Desember 2011 by hayuntrisejarah in Tak terkategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.